Rabu, 19 Oktober 2016

Perpisahan dengan Herr Binkau (Benjamin Binkau, M.Sc)

Kamis, 13 Oktober 2016

Euro Management Indonesia
Gd. Ir. H. M. Suseno
Jl. RP. Soeroso No.6 Menteng
Jakarta Pusat - Indonesia



Perpisahan dengan Herr Binkau (Benjamin Binkau, M.Sc), pengajar matematika terbaik yang didatangkan langsung dari Jerman. 
Selama 2 minggu Herr Binkau mengajar siswa PPS S1 Jerman, angkatan 13 grup Leibniz, tahun 2016-2017 untuk menghadapi Aufnahmetest yang akan berlangsung dalam waktu dekat.



 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Pemberian sertifikat

Selasa, 11 Oktober 2016

Euro Management Indonesia
Gd. Ir. H. M. Suseno
Jl. RP. Soeroso No.6 Menteng
Jakarta Pusat - Indonesia
Pemberian sertifikat kepada staf dan karyawan Euro Management Indonesia yang telah melaksanakan ibadah qurban pada tanggal 11-13 Dzulhijjah 1437 H dalam rangka Program Qurban Perusahaan melalui Qurban Peduli Ukhuwah.

Selasa, 18 Oktober 2016

Media Indonesia - Beasiswa S-1 ke Luar Negeri Strategis

Interview Eksklusif

1. Bimo Sasongko BSAE, MSEIE, MBA
    - Ketua Umum IABIE
2. Dr. Ir. Jarot S. Suroso, M.Eng
    - Ketua 1 IABIE

"Ikatan alumni Program Habibie (IABIE) mendorong pemerintah terus mengirim pelajar Indonesia untuk menimba ilmu di luar negeri guna menyiapkan sumber daya manusia yang unggul."

Interview Eksklusif tersebut dituangkan dalam tulisan:
Beasiswa S-1 ke Luar Negeri Strategis

Dimuat dalam Harian Media Indonesia, kolom Humaniora, hal. 10, pada hari Rabu, 18 Oktober 2016.


Beasiswa S-1 ke Luar Negeri Strategis

Ikatan alumni Program Habibie (IABIE) mendorong pemerintah terus mengirim pelajar Indonesia untuk menimba ilmu di luar negeri guna menyiapkan sumber daya manusia yang unggul. “Dulu tujuan Pak Habibie mengirim pelajar ke luar negeri agar mereka jadi tuan rumah di negeri sendiri di bidang sains dan teknologi.” Kata Ketua Umum IABIE, Bimo Sasongko, di Jakarta.

IABIE membentuk pada 2 Agustus 2013 awalnya untuk mengumpulkan dan menjalin koneksi antara para lulusan program beasiswa yang dikirim oleh BJ Habibie. Bimo meneyebut WNI lulusan SMA yang dikirim pada tahun 1990an untuk mengikuti program S-1 sebanyak 1500 orang.

“Salah satu visi besar kami agar pemerintah kembali mengirimkan lulusan SMA ke luar negeri,” kata Ketua IABIE, Jarot S Suroso. Dia menilai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan yang mengirimkan WNI untuk kuliah di luar negeri didominasi program S-2 dan S-3. (Ant/H-1)



Rabu, 12 Oktober 2016

Program Bela Negara

Rabu, 12 Oktober 2016
Euro Management Indonesia
Gd. Ir. H. M. Suseno
Jl.RP.Soeroso No.6, Menteng
Jakarta Pusat - Indonesia



Program Bela Negara yang mencakup Pelatihan baris berbaris, Pelatihan fisik, Pelatihan Sikap, Pelatihan ketangkasan dan Pelatihan pengemban tanggung jawab. Program ini diikuti oleh 50 staf dan karyawan Euro Management Indonesia dan dilaksanakan untuk membentuk staf dan karyawan yang tegas, sigap, tangkas, bertanggungjawab dan berewawasan kebangsaan. Program ini merupakan program reguler, dilaksanakan 2 kali dalam sebulan dan dilatih oleh pelatih militer.


 
 
 
 
 
 


Lahir Kembali Untuk Indonesia




Interview Eksklusif

Bimo Sasongko BSAE, MSEIE, MBA
- Ketua Umum IABIE
  (Ikatan Alumni Program Habibie)
- Pendiri Euro Management Indonesia

Interview Eksklusif Bimo Sasongko dengan Republika,
dimuat dalam Koran Republika,
kolom Wawasan, hal. 23 (satu halaman penuh),
Rabu 12 Oktober 2016.


LAHIR KEMBALI UNTUK INDONESIA

Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie saat menjadi menteri riset dan teknologi memiliki visi jangka panjang. Anak-anak Indonesia harus menguasai ilmu pengetahuan. Bangsa Indonesia harus mandiri dalam menggerakkan industri sains dan teknologi yang akan menjadi bidang terdepan pada masa depan.
Habibie kala itu kemudian mengirimkan hampir 1.500 lulusan SMA terbaik di seluruh Indonesia untuk melanjutkan pendidikan sarjana ke beberapa negara maju. Anak-anak muda ini dikirim ke jerman, Amerika Serikat, Prancis, Belanja, Inggris, Australia, Kanada, Austria, dan Jepang pada rentang 1982 hingga 1996. Mereka hanya fokus mempelajari bidang sains dan teknologi.
 Kini, para pelajar Indonesia itu kembali ke nusantara. Mereka megembangkan diri menjadi ahli dibidangnya masing–masing. Keinginan kuat untuk berkumpul dan bisa memberikan darmanya untuk bangsa, anak-anak muda ini lantas berkumpul dalam satu organisasi Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE). Apakah yang hendak diperjuangkan para ahli ini dengan berkumpul dalam satu wadah? Berikut penurutan Ketua Umum IABIE Bimo Joga Sasongko kepada wartawan Republika, Umi Nur Fadhilah.

Apa maksud alumni IABIE ingin berkontribusi untuk Indonesia?
Kita sudah menikmati pendidikan luar negeri. Menikmati beasiswa 20 tahun lalu, dikirim ke universitas terbaik dunia yang harganya sangat mahal. Setelah pulang, tepatnya di usia 40-50-an tahun dapat berkontribusi untuk bangsa dan negara.

Kontribusi dalam bidang apa?
Masing-masing dari kita mempunyai keahlian di bidang sains dan teknologi. Tetapi, kita tak hanya akan berkontribusi sesuai bidang keahlian. Kita siap menyentuh sebanyak mungkin aspek kehidupan masyarakat umum di Indonesia. Itu intinya.
Apalagi anggota IABIE ini sudah berusia 40 – 50 Tahun, insya Allah sudah mapan dari segi finansial dan keilmuan pekerjaan. Sehingga, mengapa kita tidak memberikan sesuatu untuk bangsa dan negara, yang lebih luas jangkauannya dengan berbagai aktivitas.

Apakah selama ini alumni program beasiswa belum berkontribusi untuk negara?
Masing-masing IABIE sudah bisa berkontribusi. Tapi, dengan adanya IABIE ini, berkumpul 4.000 alumni yang pernah disekolahkan Pak Habibie (Bacharuddin Jusuf Habibie). Kita bersinergi dan menciptakan sesuatu yang berbeda dengan aktivitas sehari-hari, yang pada umumnya selalu berhubungan dengan keahlian uang dan bisnis. Kita ingin sesuatu yang berhubungan dengan kemaslahatan umat, aksi sosial, pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya.

Saat ini, di mana IABIE menyalurkan keahliannya?
Mereka rata-rata jadi peneliti. Ada yang di birokrat, pengusaha, professional, bekerja di perusahaan-perusahaan swasta atau asing. Meskipun dulunya mereka belajar dan menuntut ilmu di bidang sains dan teknologi, setelah pulang ke Indonesia, bekerja 20 hingga 30 tahun, mereka cabangnya sudah masing-masing. Ada yang anggota DPR, kader partai polotik, pengacara, seniman.
 
Apakah ada bidang khusus yang ingin dibidik IABIE?
Sebenarnya pertama kita ingin menggaungkan kembali program beasiswa yang sudah dihentikan sejak 1998. Bagaiman menggerakkan kembali program beasiswa yang kita nikmati dulu, di mana anak-anak lulusan SMA bisa menuntut ilmu di negara maju dunia. Beda dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang mengirim sarjana ke luar negeri.
Dan ini yang tidak pernah ada lagi sebagai inisiatif pemerintah saat ini. Sehingga, IABIE berinisiatif untuk menggaungkan, mengawal, dan menginspirasi berbagai pihak generasi muda dan orang tua, pemerintah, swasta, bank, pemerintah daerah (pemda), untuk kembali menggaungkan program pengiriman mahasiswa ke luar negeri. Itu salah satu inti berdirinya IABIE.

Bagaimana IABIE akan turun ke lapangan?
Bangsa Indonesia saat ini kekurangan motivasi pada generasi mudanya. Apakah itu anak SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, bahkan orang-orang yang di usia 30-40, tidak termotivasi untuk melakukan sesuatu. Televise bersisi tayangan yang mendemotivasi, berita-beritanya kriminal, perselingkuhan, tahayul, dan lain-lain. Sekarang generasi muda kita terbuai dengan informasi selebritas, hura-hura.
Dibutuhkan orang-orang yang bisa memotivasi. Nah, itulah. Kita berusaha menggerakkan yang namanya program gerakan motivasi pendidikan Indonesia. Artinya, kita akan mengumpulkan orang-orang yang sudah mapan dari segi ilmu pengetahuan, dan pekerjaan untuk turun ke lapangan. Saatnya mereka memberikan kontribusi kepada masyarakat dengan cara memotivasi generasi muda agar dia terinspirasi untuk bisa menjadi dirinya.

Apa tujuannya memotivasi generasi muda?
Agar mereka sadar, untuk menjadi sesuatu, mereka harus belajar. Itu penting. Karena di sekolah tidak dimotivasi. Di sekolah hanya mempelajari ilmu pengetahuan, tapi tak dimotivasi nantinya mau jadi apa 20-30 tahun lagi. Tidak dijabarkan ahli peasawat terbang itu seperti apa, ahli nuklir itu seperti apa.
Nah kita berusaha hadir untuk itu. Kita akan mengumpulkan orang-orang yang sudah terkenal dan mapan, mulai turun ke lapangan di seluruh Indonesia. Dimulai dengan anak SMA, mahasiswa, dan public. Kita tidak seperti di TV, tapi lebih ke expertise motivation (kepakaran motivasi).

Apakah program motivasi juga akan menjangkau daerah 3T (terpencil, terluar, dan tertinggal)?
Tentu saja, tapi, kita mulai dari daerah yang terjangkau dulu, misalnya, pinggir-pinggir Kota Jakarta. Banyak orang yang sudah berada di posisi puncak lupa dengan lingkungan sekitarnya. Padahal, seharusnya ilmunya dituangkan keluar. Tantang pengalaman dia, kehidupan dia, suka duka, yang tidak didapatkan di dunia perguruan tinggi atau sekolah-sekolah.

Apa yang dibutuhkan anak Indonesia untuk memajukan bangsa?
Pertama, harus punya cita-cita setinggi-tingginya. Tanpa cita-cita, dia tidak akan mau ngapa-ngapain. Dan untuk mencapai cita-cita itu, dia harus dimotivasi dulu.
Kedua, percaya dirinya, mengungkapkan pendapat, berdiskusi. Tidak hanya punya ilmu pengetahuan, tapi juga jago berdebat, berdiskusi, menganalisis, kemampuan Bahasa. Itu yang dibutuhkan bangsa Indonesia 20-30 tahun lagi pada era globalisasi. Karena persaingan kita itu dengan dunia luar.

Pemerintah mengalahkan pendidikan vokasi, sementara IABIE mendorong pelajar untuk kuliah di luar negeri. Ada titik temu?
Itu ide yang yang bagus. Tapi kita masing-masing punya kekhususan. Kita menggerakan itu karena itu adalah suatu strategi untuk percepatan pembangunan. Agar bangsa Indonesia maju dan dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain, khususnya di ASEAN.
Namun, fokusnya penting karena penduduk Indonesia yang banyak dan sebagian besar orang-orang muda, bonus demografi, mereka harus dilatih dengan pendidikan setinggi mungkin. Tentu saja ada yang pendidikan secara resmi SD, SMP, SMA, perguruan tinggi. Tetapi juga harus diisi orang-orang yang punya keahlian yang tidak bisa dipelajari di universitas.
Ini kekurangan kita juga. Kalah bersaing dengan Malaysia, Vietnam, Kamboja, di mana struktur penduduknya itu diarahkan oleh pemerintah supaya punya keahlian khusus.
Keahlian itu membutuhkan pengalaman kerja, bukan pendidikan. Sehingga, nilai jualnya tinggi. Itu yang kekurangan di Indonesia. SDM kita sudah banyak yang lulusan perguruan tinggi, tapi banyak yang tidak berkualitas. Untuk itulah, didorong dengan program-program beasiswa.
Kedua, kita juga kekurangan tenaga-tenaga yang membutuhkan keahlian tinggi. Di negara besar lainnya, program vokasi itu berbarengan dengan program prndidikan formal dari S-1 sampai S-3.

MIMPI MENCETAK SATU JUTA HABIBIE

Tepat usia republic ini genap 71 tahun, pengurus Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE) juga menggelar hajat besar. Gegap gempita kemerdekaan melatarbelakangi pelantikan pengurus baru IABIE pada Rabu (17/8). IABIE memasang tema yang tak kalah besar, memerdekakan bangsa dari keterbelakangan ilmu pengetahun dan teknologi.
Nama Bimo Sasongko mendapat panggungnya hari itu. CEO Euro Management itu didaulat sebagai pemimpin tertinggi IABIE yang baru berusia tiga tahu. Bimo dalam kesempatan pertamanya setelah dilantik bertekad mengumpulkan potensi seluruh alumni program Habibie.
“IABIE memiliki alumni yang bertebaran di berbagai latar belakang profesi. Kita berharap dapat menghimpun potensi alumni program Habibie, saling bersinergi dalam membangun Indonesia.” Ujar Bimo dalam situs resmi IABIE.
Bimo ingin IABIE bisa bersinergi dengan petensi bangsa yang lain, termaksud dengan pemerintah. Bimo mengatakan, IABIE siap menyumbangkan pemikiran kepada Pemerintah Presiden Joko Widodo terkait dengan masalah dan solusi SDM ahli dan berkompetensi tinggi untuk pembangunan nasional. “Khususnya pembangunan infrastruktur, industri, dan kapasitas inovasi nasional” ujar dia.
Sejak awal, Bimo memiliki gagasan agar IABIE bisa berperan aktif sebagai badan pemikir bangsa terkait strategi, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan nasional.
Bimo sendiri adalah penerima beasiswa Habibie pada 1991. Sebagai penerima beasiswa Habibie, bimo mendapatkan kesempatan berkuliah di North Carolina State University, Amerika Serikat, pada 1991 sampai 1996. Kemudian Bimo melanjutkan program magister di jerman pada 2001 hingga 2002.
Pelajaran selama studi di AS dan Eropa itu juga yang ia ambil ketika memimpin lembaga studi Bahasa dan misi beasiswa ke luar negeri, Euro Management. Bimo berharap generasi muda Indonesia bisa semakin maju, mampu berbahasa asing, hingga mengambil studi ke luar negeri.
Bimo menyebut, itulah salah satu tujuan lembaga Euro Management yang ia pimpin, mencetak satu juta Habibie. Caranya dengan mendorong pelajar mendapatkan beasiswa ke luar negeri. “saat ini sudah hamper 2.000 orang siswa yang dikirim Euro Management ke luar negeri. Dan mayoritas mereka adalah muslim”, kata dia kepada Republika, beberapa waktu lalu.
Bimo mengatakan, sebagai bagian dari negara dengan Muslim terbesar, sudah menjadi tanggung jawab untuk meningkatkan harkat martabat generasi muda Muslim. Salah satunya melalui beasiswa luar negeri. Salah satu pesan yang ia tekankan kepada penerima beasiswa adalah mereka menjadi wakil bangsa Indonesia di kancah dunia, termasuk wakil umat islam di Indonesia.
Para mahasiswa ini, papar Bimo, harus mampu mencerminkan gambaran islam di Indonesia yang ramah, santun, dan toleran. Ini menjadi beban berat bagi mahasiswa Muslim Indonesia sekarang bila dibandingkan pada era 1990-an.
Ia menyebut, jika pelajar Indonesia memilki karakter baik, motivasi tinggi, santun, dan toleran, hal itu akan menjadi gambaran Indonesia di luar negeri. “karena banyak orang sekarang yang akhirnya malu-malu menunjukan jati dirinya sebagai Muslim di negara barat, lantaran gambaran buruk terhadap islam selama ini”, ujar dia.


Karena itu, ia ingin pelajar-pelajar Muslim Indonesia di luar negeri tetap bangga dengan jati diri keislaman mereka. Sekaligus bangga dengan keindonesiaan yang memiliki karakter lebih toleran dan santun ke semua orang.



Republika - Membenahi SDM Intelijen

Membenahi SDM Intelijen

Persaingan dan ancaman global perlu dihadapi dengan mencetak sumber daya manusia (SDM) intelijen yang memiliki kompetensi tinggi. Untuk mencetak SDM ini, perlu melibatkan lintas disiplin ilmu sehingga mampu melihat ancaman global terkait perang asimetris, seperti perang digital, perang produk, hingga faktor pemicu yang menyebabkan gejolak sosial.

Kini pembenahan SDM intelijen menjadi agenda penting dunia. Seperti yang dilakukan oleh MI6, badan intelijen Inggris yang telah menambah 1.000 anggota dinas rahasianya atau 40 persen dari jumlah total personel. Penambahan ini merupakan program pengembangan terbesar sejak Perang Dingin sebagai bagian dari upaya MI6 untuk menghadapi persaingan ekonomi, perang asimetris, dan memanfaatkan teknologi baru.

MI6 telah menjadi legenda dinas rahasia dan digambarkan sebagai induk mata-mata dalam karya fiksi yang sangat populer, mulai dari karakter George Smiley buatan John le Carré hingga James Bond karya Ian Fleming. MI6 beroperasi di luar negeri dan bertugas mengamankan Inggris beserta kepentingan ekonominya.

Indonesia kini mestinya juga berkepentingan membenahi SDM intelijen. Terbentuknya SDM intelijen yang berkualitas sangat membantu negara dalam memenangkan persaingan global. Badan intelijen juga harus memberi perhatian serius terkait dengan kondisi Indonesia yang telah menjadi ajang perang digital oleh pihak asing.

Perusahaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) raksasa dunia dalam bidang perangkat keras, aplikasi, ataupun yang biasa disebut sebagai OTT (over the top) telah menjadikan Indonesia sebagai pasar yang sangat gemuk dan sekaligus sebagai ajang perang asimetris yang menempatkan kepentingan bangsa ini, seperti pelanduk yang terjepit di antara peperangan raksasa.

Budi Gunawan sebagai kepala Badan Intelijen Negara (BIN) diharapkan bisa menyinergikan beberapa lembaga intelijen di negeri ini. Budi Gunawan memiliki PR besar terkait kompetensi dan jumlah SDM intelijen, yang kondisinya belum optimal untuk mengatasi potensi gangguan dan ancaman terhadap negara. Gangguan dan ancaman tersebut sudah berubah bentuk dan skalanya.

Tantangan terkini bagi Kepala BIN adalah mewujudkan teknologi intelijen untuk meneguhkan intelijen dalam bidang ekonomi dan sumber daya alam yang saat ini banyak digelapkan berbagai pihak. Di antaranya, kontraktor usaha pertambangan dan sumber daya kelautan.

BIN juga harus mampu menanggulangi modus penyadapan yang dilakukan asing terhadap aktivitas pemerintahan RI. Operasi penyadapan oleh pihak asing terhadap alat komunikasi Presiden RI dan beberapa pejabat pemerintah lainnya tidak boleh terjadi lagi.

Kekompakan dan sinergi dari berbagai lembaga intelijen di negeri ini, yakni intelijen TNI, kepolisian, kejaksaan, dan KPK perlu dijaga. Kini, Kepala BIN diadang tantangan berat terkait postur dan kompetensi SDM intelijen yang mesti ditingkatkan dalam waktu singkat. Karena, tugas intelijen semakin berat dan membutuhkan kompetensi spesifik dan sesuai kemajuan teknologi, terutama TIK.

Langsung atau tidak langsung, Indonesia terdampak perang digital oleh pihak asing yang semakin sengit. Kondisi ini mesti bisa diatasi oleh SDM intelijen nasional. Perang digital seperti terlihat dalam kasus produk Samsung Galaxy Note 7 dan iPhone 7 yang merupakan bentuk perang dagang terkini yang melibatkan aksi intelijen.

Perang di atas menyebabkan ditariknya produk ponsel Samsung Galaxy Note 7 yang sudah telanjur beredar akibat beberapa insiden terbakarnya baterai ponsel saat diisi kembali pemiliknya. Berkecamuknya perang dagang antara Iphone selaku perusahaan Amerika Serikat dan Samsung sebagai perusahaan Korea Selatan harus menjadi pelajaran bagi Indonesia.

Dengan terjadinya recall 2,5 juta unit Galaxy Note 7 yang sudah beredar di 10 negara, termasuk di AS dan Korea Selatan sendiri, diperkirakan Samsung bakal menderita kerugian Rp 23,8 triliun dan kehilangan pendapatan Rp 65 triliun untuk tahun ini saja.

Peningkatan kompetensi SDM intelijen sebaiknya menjadi kata kunci bagi Kepala BIN untuk membenahi organisasi. Sistem rekrutmen dan pendidikan SDM intelijen perlu dibenahi karena tantangan dan bentuk kontra intelijen semakin canggih sehingga memerlukan teknologi dan lintas disiplin ilmu.

Agenda pertama Kepala BIN untuk membenahi personel atau SDM intelijen sebaiknya menerapkan merit system. Selama ini, BIN belum sepenuhnya menerapkan merit system dalam pengembangan karier dan kompetensi.

Hingga kini, masih berlaku sistem konvensional untuk mengembangkan SDM intelijen. Merit system memacu anggota intelijen untuk selalu meningkatkan kompetensinya, lebih berinovasi dan kreatif.

Merit system seharusnya segera diterapkan secara sistemis di seluruh intelijen daerah, yakni Badan Koordinasi Intelijen Daerah (Bakorinda) sehingga mendorong terciptanya personel yang memiliki kinerja baik. Proses wanjak di Bakorinda harus didasarkan pada pertimbangan matang sehingga setiap penempatan personel akan terwujud "the rihgt man in the right job in the right time". Untuk menempatkan personel pada jabatan tertentu.

BIN kini juga membutuhkan kerja sama dan pendidikan global bagi para anggota. Jika hanya mengandalkan pendidikan dan kursus di dalam negeri, tentunya tak memadai. Saat ini, postur SDM intelijen terkendala komposisi struktur yang sebagian besar terdiri atas kepangkatan bintara ke bawah yang memiliki kapasitas dan keterampilan intelijen yang minim.

Sedangkan, perwira intelijen yang persentasenya lebih kecil juga belum memiliki pola pengembangan profesi yang sesuai dengan tantangan zaman. Untuk mengatasi disparitas karier dan kompetensi itu, perlu sistem pengembangan SDM intelijen pada level perwira dengan berbagai program pendidikan di luar negeri.
Untuk itu, perlu penguasaan bahasa asing dan memilih lembaga atau perguruan tinggi di luar negeri yang tepat untuk pendidikan para perwira intelijen.

Bimo Joga Sasongko

Pendiri Euro Management Indonesia, Ketua Umum Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE)


Selasa, 04 Oktober 2016

Mengembangkan SDM Perkeretaapian

Mengembangkan SDM Perkeretaapian

Peringatan ke-71 Hari Kereta Api Nasional pada 28 September diwarnai dengan pembangunan berbagai infrastruktur perkeretaapian di seluruh pelosok tanah air. Pembangunan diatas membutuhkan SDM perkeretaapian dalam jumlah yang banyak. Terdiri dari SDM ahli hingga teknisi dan bisnis serta pemasaran jasa perkeretaapian.

Perlu didirikan Universitas Kereta Api Nasional yang bertempat di Kota Bandung. Universitas tersebut untuk mengintegrasikan berbagai portofolio keahlian yang terkait dengan perkembangan industri dan operasi kereta api. Beberapa diklat atau pusat latihan yang dimiliki oleh PT KAI bisa bersinegri dengan perguruan tinggi dan konsultan pengembangan SDM internasional sebaiknya membidani lahirnya Universitas Kereta Api. Hal itu seperti halnya Telkom University (TelU) yang sangat efektif menghasilkan SDM yang sangat berkempeten dan berdaya saing dibidang TIK dan industri kreatif.

Hari jadi kereta api tahun ini sebaiknya dijadikan tonggak untuk membenahi dan mencetak SDM perkeretaapian yang berkemampuan global. Latar belakang sejarah perkeretaapian nasional dimulai setelah proklamasi Kemerdekaan RI. Para karyawan yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) mengambil alih kekuasaan perkeretaapian dari penjajah Jepang. Langkah heroik diatas meneguhkan bahwa mulai 28 September 1945 kekuasaan perkeretaapian berada di tangan bangsa Indonesia. Peristiwa itulah yang menjadi dasar ditetapkannya 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api nasional.

Pemerintah tengah mengembangkan infrastruktur perkeretaapian secara besar-besaran seperti proyek pembangunan kereta api (KA) super cepat Bandung-Jakarta, pembuatan jalur kereta api di luar Pulau Jawa (Sulawesi, Kalimantan dan Papua),  pembangunan  Kereta Api Ringan (Light  Rail Transit / LRT) terintegrasi di beberapa kota, seperti Bandung, Palembang, DKI Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi. Serta proyek untuk mengaktifkan kembali jalur KA yang selama ini telah mati. Seperti jalur Bandung-Ciwidey, jalur Rancaekek-Tanjung Sari Sumedang, dan jalur mati lainnya.

Tentunya untuk menunjang pembangunan infastruktur diatas dibutuhkan pengembangan SDM lewat pendidikan dan pengiriman ke luar negeri untuk belajar perkeretaapian modern.  Selama ini PT KAI telah melakukan benchmarking ke negara lain dengan mengirimkan SDM ke Prancis, Jepang dan Tiongkok. Pengiriman tersebut meliputi berbagai macam keahlian dan meliputi seluruh jenjang karyawan. Menurut data, 1837 karyawan telah dikirim ke Tiongkok untuk mendalami perkeretapaian.

Terkait dengan pengembangan SDM, pembangunan KA Cepat yang  digarap PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebaiknya mengacu dan sesuai dengan UU No.23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Pembangunan sebaiknya terfokus kepada tahapan penguasaan teknologi dan industri dalam arti yang sebenar-benarnya. Serta dilakukan penuh totalitas oleh putra-putri bangsa sendiri.

Untuk membangun sisten perkeretaapian nasional yang canggih, yang memadukan antara KA komuter atau perkotaan, KA biasa, hingga KA cepat/supercepat diperlukan penguasaan teknologi dan industri perkeretaapian yang ditopang oleh SDM teknologi yang andal dan jumlahnya cukup.

Komitmen direksi PT KCIC yang menyatakan bahwa proyek pembangunan KA cepat Jakarta-Bandung akan menggunakan tenaga kerja nasional harus dirumuskan secara detail. Perlu perencanaan SDM dan audit teknologi KA cepat agar dikemudian hari program ini bisa berlanjut dan berkembang sesuai arah perkeretaapian nasional yang bisa mencapai kelas dunia.

Proyeksi KA cepat Jakarta-Bandung yang akan menyerap 39 ribu tenaga kerja pada saat konstruksi, 20 ribu tenaga kerja konstruksi transit oriented development (TOD), dan 28 ribu pekerja saat operasi TOD harus dirumuskan secara detail.

Pengembangan perkeretaapian nasional selain membutuhkan pelaksana pembangunan infrastruktur oleh BUMN dan wahana industri perkeretaapian, juga membutuhkan lembaga riset dan inovasi untuk mengembangkan KA cepat dimasa mendatang. Tentunya lembaga riset dan inovasi ini membutuhkan sangat banyak SDM teknologi yang mampu menguasai teknologi KA supercepat yang sesuai dengan tren dunia.

Perlu mengirimkan mahasiswa untuk belajar di perguruan tinggi dan pusat industri KA supercepat. Sehingga dalam kurun waktu lima tahun kedepan SDM teknologi ini sudah bisa mengisi lembaga strategis di atas.

Betapa dinamisnya riset dan inovasi terkait dengan KA supercepat dewasa ini. Kita bisa menengok inovasi dan riset yang dilakukan oleh perusahaan KA nasional Prancis SNCF. Selama ini SNCF merupakan pusat dunia terkait dengan pengembangan KA canggih berkecepatan sangat tinggi. Yakni Train Grande Vitesse (TGV) yang terus menerus berinovasi membuat rekor dunia dalam hal kecepatan tempuh.

Selain aspek kecepatan, SNFC juga melakukan berbagai riset dan inovasi terkait dengan value conscious. Survei SNFC menunjukkan bahwa pada saat ini faktor kecepatan saja tidaklah cukup untuk menjadi daya tarik penumpang KA di benua Eropa. Dengan kondisi ini maka SNFC selain terus mengembangkan teknologi KA cepat juga berinovasi terhadap layanan, antara lain bekerja sama dengan Disneyland untuk merancang gerbong TGV yang memiliki fasilitas hiburan fantastis bagi keluarga.

Para pemuda lulusan SMA di negeri ini sebaiknya diarahkan untuk belajar KA supercepat di Prancis. Karena negara itu selama ini terbukti memberikan transfer teknologi yang jelas dan komprehensif kepada negara lain, termasuk dengan Tiongkok. Transformasi perkeretaapian nasional menuju penerapan KA supercepat perlu strategi dan cetak biru yang tepat yang dikerjakan secara mandiri oleh putra-putri bangsa. Kemandirian itulah yang menjadi roh dari Undang-undang Perkeretaapian Nasional.

Keberhasilan transfer teknologi KA supercepat oleh pemuda Indonesia sangat menentukan perkembangan perkeretaapain nasional dan sekaligus menjadi solusi bagi masalah yang akan timbul. Pengoperasian KA Cepat Jakarta-Bandung tentunya akan sarat masalah berikutnya.


BIMO JOGA SASONGKO, Pendiri Euro Management Indonesia, Ketua Umum Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE).